Sabtu, 20 Oktober 2012

A BLAST FROM THE PAST


Beberapa bulan yang lalu saya berjanji untuk melanjutkan cerita tentang kepindahan saya kembali ke Jakarta. Sebuah peristiwa yang awalnya saya pikir adalah kemustahilan atau sebuah peristiwa yang bila ingin terjadi akan menguras kantong saya sedemikian dalam. Namun ternyata benar kata orang bijak, tidak ada hal yang mustahil di dunia ini. Sudah hampir 2 bulan saya kini memiliki pola hidup yang sedemikian “baru”. Baru karena kini saya harus terbangun setiap jam 4 pagi dan kemudian dalam satu jam harus segera berangkat menuju kantor yang letaknya lebih dari 40 KM dari rumah. Setiap pagi saya harus mengendara mobil menuju ke kantor selama satu jam, tidak seperti sebelumnya di kota kecil saya hanya perlu l0 menit berkendara motor untuk menuju ketempat kerja.

Seperti kita semua telah ketahui bahwa untuk hidup di kota besar seperti Jakarta akan membawa kita selalu berkejaran dengan segala ketidak-pastian situasi jalanan. Inilah yang menyebabkan saya lebih memilih berangkat pagi walaupun bisa hampir dipastikan setiap hari pulalah saya datang terlalu pagi. Saya bisa bisa sampai kantor jam 6.15 menit setiap pagi. tapi baguslah dengan demikian saya bisa menlanjutkan tidur saya kembali setidaknya selama satu jam, satu jam tidur yang sangat berharga bagi saya. Lantas bila demikian kenapa harus berangkat sepagi itu..? sebab bila saya berangkat sedikit lebih siang saya akan stuck di kemacetan yang minimal menghabiskan waktu saya selama 2 jam dan tentunya saya akan terlambat.

Lantas kenapa tidak cari kost saja dekat kantor, jawabannya tentu sedikit melow-romantis but reasonable, sebab saya punya keluarga disini, sebab saya punya rumah disini, sebuah rumah perjuangan sederhana yang susah payah saya bangun seolah menanti untuk ditinggali. Masa' saya harus negakost juga..? FYI saya sudah jadi anak kost selama kurang lebih 14 tahun. jadi insyaallah cukup lah.

Bila mengingat kembali jauh kebelakang bisa dikatakan bahwa rutinitas ini adalah rutinitas yang tidak juga terlalu baru, sebab saat sekolah menengah pertama saya sudah melakukan rutinitas pagi yang semacam ini, walaupun saat itu tidak selalu berhasil sebab saya kerap datang terlambat sampai disekolah.

Walaupun demikian semua ini sangat berarti, dan ini semua sangat saya syukuri, sebab paling tidak saya tidak perlu lagi menjalani perjalanan belasan jam menuju setiap kali hendak pulang ke Jakarta dan sebaliknya, belum lagi dengan kenyataan kondisi transportasi disana yang tidak banyak pilihan. Situasai situasi sulit yang kerap membuat saya tergoda untuk meratapi nasib kemudian berpikir untuk menyerah. Selama hampir 8 tahun saya melakukan rutinitas pulang pergi ke Jakarta dengan ratusan jam penerbangan  membuat saya sampai saat ini pun sama sekali tidak merindukan rutinitas tersebut. And i hope when i do this again it’s purely for holiday.

Saya hanya berharap semua akan menjadi lebih baik bagi saya disini. Setidaknya saya bisa kembali berkumpul bersama keluarga, setidaknya saya bisa menempati rumah perjuangan yang saya bayar setiap bulannya dengan keringat dan segala kondisi pergulatan batin. Semoga saya pun tidak terlalu prematur untuk mengatakan suasana dikantor baru ini jauh lebih “cocok” buat saya, meskipun saya juga sedikit rindu dengan beberapa orang dikantor lama saya.

Saat ini saya sedang berada disebuah ketinggian sambil memandang kota dengan seluk beluk kesibukannya yang belum mulai menggeliat, atau apakah karena ini hari minggu dan masih jam 5.38 pagi jadi Jakarta masih terlihat sangat “hening”.  Dalam ketenangan ini saya melambungkan lamunan saya pada teman teman perjalanan saya yang dulu kerap menemani weekend demi weekend. Bertanya tanya apakah Eja masih sibuk mengurus kaus komunitasnya, apakah Andreas masih bahagia dengan menjadi TOA buat semua couchsurfer disana. Apakah Aaron kini sudah mulai bisa berbahasa Indonesia, kemudian Danil yang lama kelamaan berganti profesi sebagai juru kuncen pantai Papuma, dan Danang juga yang selalu galau dengan statusnya di BBM dan tentu saja si cantik Emil yang setiap hari selalu saja semakin ehmmm kasih tau ga eaaagh...hehehe anw apapun yang mereka dan tentu saja saya hadapi saat ini dengan hidup kita masing masing namun saya yakin setiap manusia lahir ke dunia berhak untuk merasakan kebahagiaan.

Let's find and do your happiness friends...