Selasa, 27 November 2012

Turkey the living history ( part 2 )

Mengunjungi Turkey tidak lengkap rasanya bila tidak mengunjungi kota kecil nan damai yang bernama Konya, dan berbicara tentang Konya tentunya tidak akan lepas dari sebuah museum yang bernama Mevlana Caladiin. Sebuah museum yang dahulunya merupakan pusat kegiatan kaum Sufi di Turky. 

Adalah Jalal ad-Din Muhammad Rumi yang merupakan pemimpin dari para pengikut aliran Sufi tersebut. Di Museum inilah jasad beliau dimakamkan. Selain makam beliau dan beberapa pengikutnya,  Di museum ini pula tersimpan janggut yang konon merupakan janggut Nabi Muhammad.

Memasuki komplek Museum Mevlana, semua pengunjung diharuskan untuk melapisi alas kakinya dengan plastik yang telah disediakan. Tentu saja hal ini dilakukan guna menjaga kesucian museum. Bangunan yang interiornya mirip masjid biru di Istanbul ini benar benar kental suasana sakralnya. Terlebih dengan alunan musik khas Sufi yang sayup sayup terdengar, mampu membius setiap pengunjung ke dalam sebuah suasana magis. Pengunjung pun dilarang bicara kencang kencang, hanya di perbolehkan berbisik. Mengambil gambar pun dilarang. Sedikit saja melanggar, ada polisi disetiap sudut bangunan yang tanpa ragu akan mengur kita.
 

Disini memang kita tidak akan menemukan tarian Sufi yang terkenal, sebab saya justru mendapatkan kesempatan menyaksikan tarian Sufi tersebut saat saya berkunjung ke Cappadocia. Di museum ini hanya terdapat beberapa diorama yang akan memberikan sedikit gambaran tentang apakah sebenarnya makna dari tarian Sufi yang konon memiliki unsur magis.

Jalal Ad-Din Muhammad Rumi yang merupakan guru bagi para pengikut kaum Sufi merupakan sosok yang sangat mencintai Allah SWT, sehingga setiap detik dalam hidupnya beliau habiskan untuk mengabdi pada Allah. Di tengah-tengah pengabdiannya, beliau mencoba menemukan caranya sendiri untuk berkomunikasi kepada sang pencipta. Bila kita perhatikan lebih dalam tarian Sufi ini memang terlihat sederhana namun sesungguhnya mengandung makna yang sangat dalam. 

Posisi tangan kanan yang selalu menengadah ke atas konon bermakna keikhlasan menerima apa pun dari Allah. Sementara posisi tangan kiri yang seolah sedang memberi tak lain disimbolkan agar manusia harus selalu mengembalikan apa yang telah Allah berikan kepada sesama manusia maupun alam sekitar. Sebuah makna yang sangat dalam terlebih keluar dari sebuah gerakan yang sangat sederhana dan cenderung membosankan. Mengejutkannya lagi para Master sufi ini sanggup melakukan gerakan berputar dengan posisi tangan seperti saya jelaskan sebelumnya hingga tiga jam.
 

Sebuah keihklasan yang terefleksi begitu khusuk melalui sebuah tarian sederhana dan jangan salahkan saya ketika saya menangis saat mendengarkan CD musik yang biasanya mengiringi tarian musik tersebut. Cd ini merupakan satu satunya oleh oleh yang tidak akan saya sesali saat membelinya, walaupun harganya sedikit mahal.








.........bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar